Latest update September 23rd, 2026 5:12 PM
Sep 23, 2026 broadcastmagz Campus, Film & Music, What's On 0

FFS 2026 mengusung tema “Berakit-rakit ke Hulu, Berlayar Menuju Layar Baru” dengan subtema “Suara Generasi, Cerita Masa Kini”. Menurut Sol Amrida, Guru Produksi Film sekaligus salah satu panitia FFS 2026, tema“Berakit-rakit ke Hulu, Berlayar Menuju Layar Baru” ini adalah metafora dari sebuah proses bagi para insan film terutama filmmaker pelajar dalam mengarungi samudera ide dan menyikapi perkembangan AI menuju karya ke dalam layar baru dalam pengertian layar putar, juga sebuah karya baru dari film AI. Masuknya AI memang menjadi pembeda paling mencolok FFS tahun ini. Empat kategori yang dibuka meliputi film fiksi pendek pelajar, film dokumenter pendek pelajar, film pendek mahasiswa/umum, serta film fiksi berbasis AI.
Bagi Sol Amrida, kehadiran kategori tersebut bukan sekadar mengikuti tren teknologi, melainkan bagian dari cara pendidikan film merespons perubahan industri audiovisual.
“Kami melihat AI sudah berkembang dan mulai digunakan dalam proses produksi film. Karena itu, kami ingin memberikan ruang kepada peserta untuk mengeksplorasi teknologi tersebut secara kreatif,” kata Sol.
Sol menegaskan, teknologi tidak boleh membuat pelajar kehilangan pemahaman dasar tentang sinema. Justru sebaliknya, AI harus ditempatkan sebagai alat yang membutuhkan pengetahuan kreatif dan teknis. Di Smekdor sendiri, pemanfaatan AI dalam pembelajaran produksi film masih dalam tahap penjajakan. Saat ini AI lebih banyak diarahkan untuk membantu pencarian dan pengembangan ide, sementara proses produksi masih dilakukan secara manual.
“Kalau menggunakan AI, siswa harus memahami istilah-istilahnya. Prompt yang dibuat juga harus jelas,” ujar Sol.
Bagi Juliantono Hadi, Kepala SMK Dr Soetomo Surabaya, perubahan tersebut sejalan dengan misi FFS sebagai festival yang mempertemukan pendidikan dan perkembangan dunia perfilman.
“Di Surabaya hampir belum ada festival film yang concern di dunia pendidikan. Kami mengutamakan karya siswa,” ujar Juliantono Hadi.
“FFS sendiri adalah perayaan film pelajar se-Indonesia yang nantinya peserta yang masuk nominasi diharapkan hadir langsung dengan layanan akomodasi selama di Surabaya dibiayai oleh panitia Smekdors. Dan nanti ada workshop-workshop produksi film panjang dan film cerita berbasis AI dari brand ambasador CapCut aplikasi editing video AI,” jelas Juliantono Hadi.
“Itulah yang membedakan FFS dengan festival film pelajar lainnya. Peserta yang masuk nominasi maupun yg tidak lolos, bisa hadir langsung mengikuti agenda Workshop Film jalin silahturahmi pelajar se indonesia, berbagi ilmu dan informasi kondisi film dari daerahnya agar terus tumbuh kembang mendukung dunia kreatif perfilman Indonesia,” tambahnya.
Ia menyebut FFS telah digelar sejak 2015 dan sempat terhenti pada 2020 akibat pandemiCovid 19 yang melarang orang berkumpul. Tahun 2026 ini menjadi penyelenggaraan ke-9, sekaligus momentum untuk mengakomodasi perkembangan teknologi dalam industri kreatif.
Perubahan lain terlihat dari cakupan peserta. FFS 2026 tidak hanya diperuntukkan bagi pelajar, tetapi juga membuka kategori mahasiswa dan masyarakat umum. Untuk kategori pelajar, film berdurasi 5–15 menit, sedangkan kategori mahasiswa/umum maksimal 25 menit.
Karya yang dikirim harus merupakan produksi 2025 atau 2026. Pendaftaran dibuka gratis pada 11 September hingga 10 November 2026, sebelum memasuki tahap kurasi dan penjurian nasional.
Dari sisi jumlah karya, panitia pada 17 September 2026 telah mencatat sekitar 33 karya yang masuk dari seluruh kategori. Angka tersebut masih bersifat sementara karena periode pendaftaran baru akan berakhir pada November. Sementara itu, sumber sejarah perfilman Surabaya mencatat FFS pada periode sebelumnya dikenal sebagai festival pelajar dengan partisipasi yang dapat mencapai sekitar 300–400 film pendek dari berbagai daerah. Namun, angka tersebut merupakan catatan historis penyelenggaraan FFS dan bukan angka peserta edisi 2025, sehingga tidak tepat digunakan sebagai perbandingan langsung dengan 2026.
Perbedaan penting lainnya adalah posisi AI yang tahun ini secara resmi menjadi kategori kompetisi tersendiri. Peserta kategori tersebut tidak sekadar diminta menghasilkan film, tetapi juga harus menjelaskan penggunaan AI dalam karyanya. Dengan demikian, FFS mencoba membuka pembicaraan yang lebih luas: bagaimana teknologi generatif ditempatkan dalam proses kreatif, bagaimana gagasan manusia diterjemahkan menjadi visual, dan sejauh mana teknologi tetap berada dalam kendali pembuat film. Penyelenggara menyebut kategori ini sebagai bentuk respons terhadap perkembangan teknologi dalam produksi audiovisual.
Di sisi pendidikan, FFS juga menjadi etalase bagi perkembangan jurusan Produksi Film Smekdor. Saat ini program tersebut memiliki 33 siswa, sementara sejumlah siswa kelas XII mulai mengerjakan film pendek sebagai bagian dari tugas akhir. Sol menyebut para siswa mulai berpikir layaknya sebuah production house, bukan sekadar menyelesaikan tugas sekolah. Sejumlah alumni Smekdor juga telah bekerja di rumah produksi di Jakarta dan Yogyakarta, menjadi konten kreator, bekerja di persewaan peralatan produksi, maupun melanjutkan pendidikan di bidang perfilman.
Pada akhirnya, FFS 2026 memperlihatkan bahwa festival film pelajar tidak harus berhenti pada kompetisi karya. Ia dapat menjadi ruang eksperimen ketika pendidikan, kreativitas, dan teknologi bertemu. Dengan total hadiah Rp20 juta, kurasi independen, juri dari kalangan sineas nasional, serta rangkaian seminar, lokakarya dan diskusi, FFS 2026 berusaha membawa peserta “menuju layar baru”—sebuah ruang ketika cerita generasi muda tidak hanya direkam dengan kamera, tetapi juga mulai dibentuk bersama teknologi yang sedang mengubah wajah industri film. Festival dan malam penganugerahan dijadwalkan berlangsung pada 22–23 Desember 2026.
Jul 10, 2019 Comments Off on Hari Kedua Festival Film Surabaya 2019 Diramaikan “Wiro Sableng”, Workshop, dan Malam Penganugerahan
Jul 09, 2019 Comments Off on Festival Film Surabaya 2019 Digelar
Sep 22, 2026 0
Sep 19, 2026 0
Sep 18, 2026 0
Sep 17, 2026 0

Aug 08, 2026 Comments Off on Lenny Ivylen: 26 Tahun Jaga Eksistensi di Dunia Fashion lewat Karya
Jakarta, Broadcastmagz – Lenny Ivylen membangun...
Dec 22, 2025 Comments Off on Yan Senjaya, Kreativitas Lima Dekade Dalam Sinema Indonesia
Jakarta, Broadcastmagz – Yan Senjaya adalah...
Sep 08, 2025 Comments Off on Tamee Irelly Menjadi Juri Open Casting Dua Film Terbaru Dynamic Story Pictures (DSP)
Bekasi, Broadcastmagz – Dalam upaya mencari talenta...
Feb 08, 2025 Comments Off on DJ Paulina, Si Cantik Jago Racik Musik Multi-genre
Jakarta, Broadcastmagz – Paulina, begitu...
Jun 20, 2024 Comments Off on Lebih Dekat Dengan Designer Indonesia Cynthia Tan
Jakarta, Broadcastmagz – Cynthia Tan, desainer fesyen...
Jun 27, 2026 Comments Off on Antusiasme Masyarakat Indonesia terhadap Piala Dunia 2026 dari Tahun ke Tahun
Jun 22, 2026 Comments Off on Ruang Publik yang Sehat Jadi Kunci Menjaga Demokrasi
Jun 22, 2026 Comments Off on Ketika Penyiaran Berhadapan dengan Dunia Digital yang Tak Lagi Sama
Jun 22, 2026 Comments Off on Gelar Dialog Publik di Serang, KPI Tegaskan Peran Penyiaran
Jun 22, 2026 Comments Off on Pembinaan Isi Siaran Jawa Pos Multimedia TV, KPI Tekankan Kepatuhan P3SPS dan Penguatan Sistem Siaran Jaringan
Feb 22, 2017 Comments Off on Jejak Langkah Televisi Indonesia
Jejak Langkah Televisi Indonesia Dari Era Analog ke...
Oct 06, 2016 Comments Off on On Air To Online Pengantar Penyiaran Radio
On Air To Online Pengantar Penyiaran Radio Industri siaran...
Jul 10, 2014 Comments Off on Panduan Wawancara Televisi
Judul Buku: Panduan Wawancara Televisi Nama Pengarang:...
Jul 10, 2014 Comments Off on Radio is Sound Only
Judul Buku: Radio Is Sound Only Pengantar & Prinsip...
Jul 10, 2014 Comments Off on Kamus Istilah Penyiaran Digital
Judul Buku: Kamus Istilah Penyiaran Digital Nama Pengarang:...