Latest update October 17th, 2026 6:06 PM
Oct 17, 2026 broadcastmagz Techno, What's On 0

AAC (Advanced Audio Coding) lahir dari kebutuhan tersebut. Teknologi ini distandardisasi melalui MPEG-2 pada 1997 dan dikembangkan lebih lanjut dalam MPEG-4. Pengembangannya melibatkan sejumlah perusahaan, termasuk Fraunhofer IIS, Dolby Laboratories, AT&T, dan Sony. Keterlibatan Sony cukup menarik karena perusahaan ini sebelumnya telah mengembangkan ATRAC untuk MiniDisc.
๐๐ฎ๐ด๐ฎ๐ถ๐บ๐ฎ๐ป๐ฎ ๐๐๐ ๐๐ฒ๐ธ๐ฒ๐ฟ๐ท๐ฎ?Prinsip kompresi AAC serupa dengan MP3 dan ATRAC, yakni memanfaatkan karakteristik pendengaran manusia melalui pendekatan psikoakustik. Informasi audio yang kurang penting secara perseptual dapat dikurangi untuk menghemat kebutuhan data dengan tetap mengupayakan kualitas suara yang baik.
Dalam proses pengodeannya, AAC menggunakan transformasi MDCT (Modified Discrete Cosine Transform) untuk merepresentasikan sinyal menjadi koefisien spektral. Analisis psikoakustik kemudian membantu menentukan alokasi bit dan tingkat kuantisasi. Teknik tambahan seperti Temporal Noise Shaping (TNS) digunakan untuk mengendalikan distribusi derau kuantisasi dan mengurangi artefak kompresi.
Efisiensi AAC umumnya lebih baik dibandingkan MP3, terutama pada bitrate rendah hingga menengah. Namun, kualitas akhirnya tetap dipengaruhi encoder, bitrate, dan karakter materi audio yang dikompresi.

๐ฃ๐ฒ๐ฟ๐ธ๐ฒ๐บ๐ฏ๐ฎ๐ป๐ด๐ฎ๐ป ๐๐ฒ๐น๐๐ฎ๐ฟ๐ด๐ฎ ๐๐๐
AAC-LC (Low Complexity) menjadi varian yang paling luas digunakan untuk musik, video, dan streaming. Teknologi ini menawarkan keseimbangan antara kualitas suara, efisiensi kompresi, dan kompleksitas pemrosesan.Kebutuhan streaming dengan bandwidth terbatas mendorong pengembangan HE-AAC (High Efficiency AAC). Teknologi Spectral Band Replication (SBR) digunakan untuk membantu merekonstruksi frekuensi tinggi dengan informasi tambahan yang relatif hemat. Pada HE-AAC v2, efisiensi ditingkatkan melalui Parametric Stereo, khususnya untuk pengodean stereo pada bitrate sangat rendah.Perkembangan berikutnya menghasilkan xHE-AAC (Extended High Efficiency AAC), berbasis Unified Speech and Audio Coding (USAC).
Teknologi ini menggabungkan pendekatan pengodean musik dan percakapan, mendukung rentang bitrate luas, serta menyediakan pengendalian loudness dan rentang dinamik melalui MPEG-D DRC. Kemampuannya sesuai untuk streaming adaptif, radio digital, dan perangkat bergerak.
๐๐๐ ๐๐๐ด๐ฎ ๐ ๐ฎ๐บ๐ฝ๐ ๐ ๐ฒ๐ป๐ด๐ต๐ฎ๐๐ถ๐น๐ธ๐ฎ๐ป ๐๐๐ฑ๐ถ๐ผ ๐ ๐๐น๐๐ถ๐ฐ๐ต๐ฎ๐ป๐ป๐ฒ๐น
Dukungan multichannel sudah menjadi bagian dari rancangan AAC sejak standardisasi awalnya. Selain mono dan stereo, AAC mampu menangani konfigurasi surround 5.1, 7.1, bahkan jumlah kanal lebih besar sesuai profil dan implementasinya.
Dalam konfigurasi 5.1, AAC mengodekan enam kanal: Left, Center, Right, Left Surround, Right Surround, dan Low Frequency Effects (LFE). Setiap kanal membawa informasi audio sesuai kebutuhan tata suara surround.Kemampuan tersebut memungkinkan AAC digunakan sebagai soundtrack film, audio televisi digital, maupun konten multimedia. Meski demikian, AAC surround konvensional tetap berbasis kanal, berbeda dari sistem audio berbasis objek seperti Dolby Atmos.
๐๐๐, ๐ ๐ฐ๐, ๐ฑ๐ฎ๐ป ๐ฃ๐ฒ๐ฟ๐ฎ๐ป ๐๐ฝ๐ฝ๐น๐ฒ
Popularitas AAC semakin meningkat ketika Apple mengadopsinya dalam ekosistem iTunes dan iPod. Tahun 2007, Apple memperkenalkan iTunes Plus dengan musik AAC 256 kbps tanpa perlindungan DRM. Langkah ini turut memperluas penggunaan AAC dalam distribusi musik digital.
File musik AAC dari iTunes umumnya menggunakan ekstensi M4A. Perlu dipahami bahwa M4A merupakan kontainer MPEG-4 Audio, bukan codec kompresi. Kontainer tersebut juga dapat menyimpan ALAC (Apple Lossless Audio Codec). Sementara itu, MP4 dan MKV dapat membawa AAC bersama video, subtitle, dan komponen multimedia lainnya.Apple Music hingga kini menggunakan AAC 256 kbps untuk streaming berkualitas tinggi, serta menyediakan ALAC untuk pilihan lossless. Kontribusi Apple terhadap popularitas AAC sangat besar, meskipun standar kompresi ini bukan teknologi eksklusif milik Apple.
๐ ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐ฝ๐ฎ ๐๐ผ๐น๐ฏ๐ ๐ฑ๐ฎ๐ป ๐๐ง๐ฆ ๐ง๐ฒ๐๐ฎ๐ฝ ๐๐ถ๐ด๐๐ป๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ป?
Kemampuan AAC menangani audio 5.1 dan 7.1 tidak membuat Dolby Digital maupun DTS kehilangan perannya dalam industri film. Kedua teknologi tersebut telah memiliki dukungan luas dalam standar distribusi DVD, Blu-ray, serta perangkat receiver AV dan home theater.
Dolby Digital juga menyediakan metadata untuk pengaturan level dialog, pengendalian rentang dinamik, serta proses downmixing. AAC memiliki kemampuan terkait dalam profil dan implementasi tertentu, tetapi ekosistem penerapannya berbeda. Dolby Laboratories sendiri merupakan salah satu kontributor pengembangan AAC, sehingga keduanya tidak sepenuhnya berasal dari kelompok teknologi yang saling bersaing.Pilihan codec untuk film ditentukan oleh kebutuhan produksi, standar distribusi, kompatibilitas perangkat, dan efisiensi kompresi. Jumlah kanal yang didukung ataupun besarnya bitrate tidak cukup untuk menentukan kualitas suara secara mutlak.
๐๐๐ ๐ฑ๐ฎ๐น๐ฎ๐บ ๐ฃ๐ฒ๐ฟ๐ธ๐ฒ๐บ๐ฏ๐ฎ๐ป๐ด๐ฎ๐ป ๐๐๐ฑ๐ถ๐ผ ๐๐ถ๐ด๐ถ๐๐ฎ๐น
Perjalanan AAC menunjukkan bagaimana teknologi kompresi berkembang mengikuti perubahan kebutuhan industri. Mulai dari musik digital, film, radio, dan televisi hingga layanan streaming modern, keluarga AAC mampu menyesuaikan diri dengan berbagai kebutuhan kualitas dan keterbatasan bandwidth.MP3 tetap bertahan dengan kompatibilitasnya yang luas, sementara Dolby dan DTS mempertahankan tempatnya dalam industri film. AAC berkembang menjadi salah satu fondasi penting audio digital karena memadukan efisiensi kompresi, dukungan multichannel, dan fleksibilitas penerapan.
Salam,
Kang Eep, Bandung
Oct 16, 2026 0
Oct 16, 2026 0
Oct 15, 2026 0
Oct 15, 2026 0

Aug 08, 2026 Comments Off on Lenny Ivylen: 26 Tahun Jaga Eksistensi di Dunia Fashion lewat Karya
Jakarta, Broadcastmagz – Lenny Ivylen membangun...
Dec 22, 2025 Comments Off on Yan Senjaya, Kreativitas Lima Dekade Dalam Sinema Indonesia
Jakarta, Broadcastmagz – Yan Senjayaย adalah...
Sep 08, 2025 Comments Off on Tamee Irelly Menjadi Juri Open Casting Dua Film Terbaru Dynamic Story Pictures (DSP)
Bekasi, Broadcastmagz – Dalam upaya mencari talenta...
Feb 08, 2025 Comments Off on DJ Paulina, Si Cantik Jago Racik Musik Multi-genre
Jakarta, Broadcastmagz – Paulina, begitu...
Jun 20, 2024 Comments Off on Lebih Dekat Dengan Designer Indonesia Cynthia Tan
Jakarta, Broadcastmagz – Cynthia Tan, desainer fesyen...
Jun 27, 2026 Comments Off on Antusiasme Masyarakat Indonesia terhadap Piala Dunia 2026 dari Tahun ke Tahun
Jun 22, 2026 Comments Off on Ruang Publik yang Sehat Jadi Kunci Menjaga Demokrasi
Jun 22, 2026 Comments Off on Ketika Penyiaran Berhadapan dengan Dunia Digital yang Tak Lagi Sama
Jun 22, 2026 Comments Off on Gelar Dialog Publik di Serang, KPI Tegaskan Peran Penyiaran
Jun 22, 2026 Comments Off on Pembinaan Isi Siaran Jawa Pos Multimedia TV, KPI Tekankan Kepatuhan P3SPS dan Penguatan Sistem Siaran Jaringanย
Feb 22, 2017 Comments Off on Jejak Langkah Televisi Indonesia
Jejak Langkah Televisi Indonesia Dari Era Analog ke...
Oct 06, 2016 Comments Off on On Air To Online Pengantar Penyiaran Radio
On Air To Online Pengantar Penyiaran Radio Industri siaran...
Jul 10, 2014 Comments Off on Panduan Wawancara Televisi
Judul Buku: Panduan Wawancara Televisi Nama Pengarang:...
Jul 10, 2014 Comments Off on Radio is Sound Only
Judul Buku: Radio Is Sound Only Pengantar & Prinsip...
Jul 10, 2014 Comments Off on Kamus Istilah Penyiaran Digital
Judul Buku: Kamus Istilah Penyiaran Digital Nama Pengarang:...